Kamis, 27 Februari 2014

Arti penting persahabatan

Bel sekolah sudah berbunyi waktunya semua siswa masuk ke dalam kelasnya masing masing, dan tidak ada satu siswa yang masih berada di luar kelasnya. memang pada dasarnya sekolah SDN Bhakti ini adalah sekolah yang sangat tertib.
Pada saat pelajaran tidak ada satu pun siswa yang masih di luar kelas. semua siswa mengikuti pelajaran yang diajarkan oleh gurunya dengan baik. di SDN Bhakti ada beberapa siswa yang sangat cerdas di kelasnya yaitu kelas 5A. siswa itu selalu menjawab pertanyaan yang ditanyakan guru kepadanya dengan betul. Ia bernama Yani, Friska dan Ana. Mereka bertiga mempunyai hobi yang sangat berbeda kalau Yani hobinya membaca, Ana hobinya menulis sedangkan Friska hobinya menggambar. Sekarang di kelas 5A sedang ada pelajaran Bahasa Indonsia yang dibimbing oleh Bu Fitri. Bu Fitri adalah guru baru di sekolah ini jadi siswa kelas 5A kurang akrab dengan Bu Fitri.
Tak terasa 1 jam sudah bu fitri mengajar kelas 5A, akhirnya Bu Fitri memutuskan untuk memberikan tugas kelompok kepada anak anak.
“Anak Anak kalian semua akan Ibu bagi kelompok untuk membuat PUISI. dan besok pagi harus dikumpulkan.” kata Bu Fitri
Dan ternyata Yani, Friska dan Ana satu kelompok. Dulunya ketiga anak itu hanya teman biasa tetapi setelah lama berteman mereka bertiga menjadi bersahabat dan saling memahami 1 sama lain.
Pelajaran Bu Fitri pun selesai. semua murid semua siswa kelas 5A mencium tangan Bu Fitri sebelum bu fitri kembali ke ruang guru.
Waktu tepat pada jam 10.00 dan itu wakunya anak anak istirahat. tetapi yani bingung kenapa bel istirahat belumlah berbunyi.
Kring… kring
Bel istirahat yang ditunggu tunggu akhirnya berbunyi juga, semua siswa berlari menuju kantin sekolah untuk makan dan minum. Saat berada di kantin, Yani dan kedua sahabatnya itu berunding masalah tugas Bahasa Indonesia yang di berikan Bu Fitri kepadanya.
“Teman teman kita nanti jadi mengerjakan tugas kelompoknya di rumah siapa?” kata ana sampil melihat Friska dan Yani.
“Bagaimana kalau kita mengerjakan tugas itu di rumah kamu fris…” seru yani memberi saran
“Boleh juga” Ana membalas saran Yani.
“Jangan di rumahku” (kata Friska dengan mata melotot)
“Kenapa?” jawab Ana dan Yani dengan kompak dan bingung.
“Di rumah kakekku sedang sakit” seru Friska (dengan wajah sedih) “Kita ke rumah kamu aja yan?”
“Baiklah” yani menjawab.
Kring… kring
Bel mulai berbunyi lagi tandanya waktu istirahat telah berakhir. Yani dan kedua sahabatnya itu bergegas masuk ke kelasnya. setelah semua siswa masuk kelas, di kelas 5A ada pelajaran Akuntansi yang di bimbing oleh Bu Siti. Karena pelajaran Akuntansi adalah pelajaran yang sangat disukai oleh Ana, ana memperhatikan dan mendengarkan apa yang sedang di jelaskan oleh Bu Siti.
Pada saat pelajaran Akuntansi berlangsung kepala Yani tiba tiba pusing. Ana dan Friska mengetahui hal itu segralah mereka berdua meminta izin kepada Bu Siti untuk membawa Yani ke Uks.
“Bu saya meminta izin untuk membawa teman saya Yani ke Uks karena dia kepalanya pusing” seru Ana dan Friska.
“iyah baiklah silakan” jawab Bu Siti
Setelah sampai di Uks Yani mengatakan kepada Ana dan Friska kalau mereka berdua adalah sahabat Yani yang terbaik karena sudah mau mengantarkan Yani ke Uks. Ana dan Friska menjawab kalau Yani juga sahat terbaiknya. lalu Ana menyuruh Yani agar beristirahat dulu di Uks biar pusing kepalanya cepat hilang.
20 menit sudah yani beristirahat di Uks, tubuh Yani sudah terasa lebih baik dari sebelumnya. akhirnya Yani bersama kedua sahabatnya itu memutuskan untuk kembali ke kelasnya.
Sesampai di kelas, Yani dkk mulai berkonsentrasi kepada mata pelajaran Akuntansi yang sedang di bahas waktu itu. Tak lama kemudian pelajaran Akuntansi pun selesai.
“Nggak terasa ya pelajaran Akuntansi udah selesai” kata Ana.
“Iya” jawab Yani
Setelah lama Yani, Friska dan ana berbincag bincang tiba tiba bel sekolah berbunyi Kring… kring… kring itu menandakan saatnya pulang. tetapi sebelum pulang tak lupa kelas 5A membaca doa. Di setiap perjalanan pulang mereka bertiga selalu diiringi dengan canda tawa sampai tak terasa sudah hampir sampai di depan rumah Yani. Sesampai di depan rumah Yani, Yani berkata kepada kedua sahabatnya,
“Teman teman jangan lupa ya nanti setelah sholat maghrib ke rumahku”
“kenapa ke rumah kamu?” tanya Ana
“Ya mengerjakan tugas bahasa Inggris lah” jawab Friska.
“owh hehehe aku lupa” Ana menjawab pembicaraan friska.
Tak terasa maghrib pun tiba Yani segera mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat maghrib. setelah sholat maghrib Ana dan Friska bergegas menuju ke rumah Yani.
Tok… tok (suara pintu rumah Yani)
“Yani… yani… yani” Suara ani dan Friska memanggil nama Yani. yani segera membukakan pintu rumahnya.
Kraaakkkk..
Suara yani membukakan pintu rumahnya dan mempersilahkan kedua sahabatnya masuk.
Disaat Yani, Ana dan Friska mengerjakan tugas kelompok, ada sedikit kesulitan yang mereka hadapi.
“teman teman bagaimana nih cara membuat puisinya?” Tanya Yani dengan bingung.
“bagaimana kalau kita cari di internet aja” Ana memberi saran
“jangan dong” jawab Friska dengan mata melotot
Karena perbedaan pendapat antara Ana dan Friska akhirnya mereka berdua bertengkar. Yani mecoba memisahkannya tapi mereka berdua malah marah. Karena persahabatan mereka bertiga sangat erat akhirnya Ana dan Friska saling meminta maaf satu sama lain dan kembali mengerjakan tugasnya dengan baik.
Setelah lama berfikir mencari syair syair yang indah untuk membuat puisi, akhirnya mereka bertiga menemukan syair yang tepat untuk puisinya itu. dan karena kerja sama yang baik antara mereka bertiga, tugas kelompok Bahasa Indonesia mereka pun selesai.
“huu akhirnya tugas ini selesai juga ya teman teman” seru Friska dengan lega
“iyaaa” jawab Yani
Allahu akbar Allahhu akbar…
Adzan isya’ sudah terdengar dari rumah Yani. yani dan teman temannya bergegas mengambil air wudhu dan berangkat sholat berjama’ah di masjid.
Saat berada di masjid setelah sholat isya’ Ana berdo’a kalau ia bersyukur mempunyai sahabat seperti Yani dan Friska.
Setelah pulang dari masjid mereka bertiga meneruskan belajar mata pelajaran lainnya sebentar. mereka memutuskan belajar mata pelajaran Akuntansi.
Tak terasa sudah pukul 20.00 Ana dan Friska berpamitan kepada Yani untuk pulang ke rumahnya masing masing.
Setelah Ana sampai di rumahnya Ana menyiapkan mata pelajaran yang harus dibawa untuk besok dan bersiap untuk tidur…
Kukruyukkkk petok petok..
Suara ayam jago berbunyi ketiga anak itu bergegas mandi dan berangkat ke sekolah.
Setelah sampai di sekolah ternyata ada lomba mata pelajaran fisika yang harus diikuti 1 kelompok 3 anak. karena Yani, Friska dan Ana tertarik pada perlombaan itu mereka memutuskan mengikuti lomba tersebut.
Pada saat perlombaan itu dimulai sampai diumumkan juaranya ternyata kelompok Yani menang juara ke dua. mereka bertiga sangat senang. Karena kekompakan, kerja keras dan persahabatan yang erat di antara mereka bertiga, mereka bisa mendapatkan juara tersebut.
Sekarang Yani dan kedua sahabatnya itu yakin kalau mereka bertiga bisa mendapatkan juara yang lebih bagus lagi. dan bisa mempertahankan persahabatan di antara mereka.
Tamat
Cerpen Karangan: Mega Ayuna Rizki
Facebook: Mega A. Rizki

Perampok tersial di dunia

Tindak kejahatan biasanya sudah direncanakan dengan matang, atau malah sebaliknya, terjadi secara mendadak, namun pelakunya sama-sama berpikir agar tidak sial sebab kelakuannya itu.
Namun di beberapa tempat, penjahat melakukan tindakan terbilang bodoh. Ada yang merampok rumah duka. Ada pula yang hendak merampok rumah dipenuhi atlet karate dan hitam, ini jelas menggelikan.
1. Pencuri hendak menggasak rumah dipenuhi atlet karate

Seorang pencuri di Kota Manizales, Kolombia, bernasib apes sebab ternyata rumah yang menjadi sasarannya milik atlet karate nasional sabuk hitam Cristian Garces. Di rumah itu ternyata dia juga melatih beberapa murid dengan tingkatan hampir sama dengannya.
Sudah bisa diduga, pencoleng itu babak belur dihajar Garces dan murid-muridnya, padahal dia sempat membawa beberapa barang berharga namun ketahuan. Penjahat itu diikat sementara Garces menelepon polisi.

2. Perampok rumah duka

Ada-ada saja ulah perampok di rumah duka di Kota Burjassot, Spanyol ini. Aksinya ketahuan oleh polisi namun dia masih berusaha mengadali aparat dengan berpura-pura mati.
Namun polisi dengan sangat mudah menemukan dia lantaran si perampok mengenakan busana berantakan. Sementara mayat sedang disemayamkan biasanya telah rapi.
Ulah pencoleng itu ketahuan warga sekitar yang mendengar suara berisik tengah malam di rumah duka itu. Aparat tiba bersama pemilik rumah dan mendapati si perampok pura-pura terbujur kaku dalam sebuah peti mati.

3. Perampok menelepon untuk memastikan ketersediaan uang

Ulah perampok satu ini tidak kalah bodohnya. Daniel Glen asal Kota Ontario, Kanada, menelepon pihak toko untuk memastikan apakah ada uang di mesin kasir. Kocaknya lagi dia mengutarakan niat hendak merampok dan dia tidak ingin usahanya sia-sia lantaran mesin duit itu kosong.
Aksinya itu ternyata sudah dua kali dia lakukan. Namun di kejadian sebelumnya dia sukses.

4. Perampok ini menulis namanya di tempat kejadian

Ingin eksis dan cepat terkenal seorang remaja 18 tahun bernama Peter Addison asal Kota Stockport, Inggris, malah menuliskan namanya di dinding rumah yang dia rampok bersama rekannya, Mark Ridgeway. Mereka membawa barang-barang porselen berharga mahal serta semprotan pemadam kebakaran.
Dia bahkan menuliskan namanya besar-besar di papan putih dengan spidol hitam, Peter Addison pernah kesini. Setengah jam setelah kejadian, Addison dengan mudah ditangkap polisi. Dia juga dikenal sebagai remaja biang onar di lingkungannya.

5. Perampok masuk ke rumah atlet anggar

Seorang pencuri bernama Pal Nagy di Ibu Kota Budapest, Hungaria memanjat tembok dan berusaha menggasak rumah seorang atlet anggar irgine Ujlaky. Mengetahui hal itu, perempuan 25 tahun juga mengkoleksi beberapa pedang di rumahnya langsung mengambil beberapa koleksinya dan mengayunkan ke arah Nagy.
Dalam sekejap pedang-pedang itu mengunci si pencuri dengan membenamkan beberapa bagian busana ke dinding. Salah satu pedang dipegang oleh Ujlaky mengarah tepat ke tenggorokan Nagy. Sementara sang atlet ternyata menghadapi kompetisi minggu depan malah menjadikan peristiwa itu sebagai latihan yang menyenangkan.

Biografi tulus


Muhammad Tulus Rusydi (lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, Indonesia, 20 Agustus 1987; umur 26 tahun) adalah seorang penyanyi dan pencipta lagu berkebangsaan Indonesia yang berdomisili di Bandung.
Selain itu, pria berdarah Minangkabau ini juga berprofesi sebagai seorang arsitek setelah menamatkan studinya di Universitas Katolik Parahyangan, Bandung.
Bernyanyi sejak kecil, Tulus mulai dikenal ketika dia mulai sering bernyanyi di acara-acara komunitas klab jazz dan kampus-kampus di kota Bandung. Semasa kuliahnya dia pernah bergabung dalam Sikuai Band.
Album perdananya, Tulus, yang diproduseri oleh Ari Renaldi, dan diedarkan oleh Demajors, dirilis oleh perusahaan rekamannya sendiri, Tulus Record pada bulan September tahun 2011, dimana dia sendiri beserta kakak kandungnya, Riri Muktamar Rusydi bertindak sebagai produser eksekutif. Lagu-lagunya seperti Sewindu, Teman Hidup, Kisah Sebentar, Tuan Nona Kesepian, dan Jatuh Cinta, merajai chart-chart di radio-radio di seluruh Indonesia.
Majalah Rolling Stone Indonesia menobatkan Tulus sebagai Editor's Choice: Rookie of The Year tahun 2013. Selain itu album perdananya pernah menduduki peringkat pertama chart Rolling Stone pada Januari dan Februari 2012.
Teman Hidup sempat menduduki peringkat ke-1 deretan K-20 Kompas TV.
Tulus kerap kali mengadakan konser tunggal untuk memuaskan para penggemarnya. Konser pertamanya diadakan di Auditorium Centre Culturel Francais (sekarang IFI) Bandung yang bertajuk 'An Introduction: Tulus' pada tanggal 28 September 2011, kemudian konser 'Beyond Sincere' di Gedung Kesenian Jakarta pada tanggal 25 Mei 2012, dan terakhir adalah konser tunggal bertajuk 'Konser Diorama' pada tanggal 9 Mei 2013 di Teater Tertutup Dago Tea House, Bandung.
Pada pergelaran Jakarta International Java Jazz Festival 2013 di Jakarta, Tulus menjadi salah satu pendatang baru yang paling diminati penonton. Di ajang tersebut, Tulus juga berkolaborasi dengan Raisa, dimana mereka menyanyikan lagu Teman Hidup dan A Whole New World.
Akhir Juni 2013, RAN berkolaborasi dengan Tulus. Mereka meluncurkan satu single, Kita Bisa.
Akhir Agustus 2013, Tulus mengeluarkan single Sepatu dalam bentuk digital download yang dapat diunduh melalui iTunes, dan menjadi salah satu single yang menempati posisi atas chart iTunes Indonesia, selain Teman Hidup dan Sewindu.
sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Tulus

Rabu, 26 Februari 2014

Sang pembela hak asasi manusia

Munir Said Thalib (lahir di Malang, Jawa Timur, 8 Desember 1965 – meninggal di Jakarta di dalam pesawat jurusan ke Amsterdam, 7 September 2004 pada umur 38 tahun) adalah pria keturunan Arab yang juga seorang aktivis HAM Indonesia. Jabatan terakhirnya adalah Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Indonesia Imparsial.
Saat menjabat Dewan Kontras namanya melambung sebagai seorang pejuang bagi orang-orang hilang yang diculik pada masa itu. Ketika itu dia membela para aktivis yang menjadi korban penculikan Tim Mawar dari Kopassus. Setelah Soeharto jatuh, penculikan itu menjadi alasan pencopotan Danjen Kopassus Prabowo Subianto dan diadilinya para anggota tim Mawar.
Jenazah Munir dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Kota Batu.
Istri Munir, Suciwati, bersama aktivis HAM lainnya terus menuntut pemerintah agar mengungkap kasus pembunuhan ini.

Pembunuhan

Munir Said Thalib, akan melanjutkan studi S2 bidang hukum humaniter di Universitas Utrecht, Belanda. Pukul 21.30 WIB. Melalui pengeras suara, seluruh penumpang pesawat Garuda Indonesia nomor penerbangan GA 974 tujuan Amsterdam dipersilakan petugas bandara naik ke pesawat.
Rombongan orang kulit putih bergegas, banyak dari mereka adalah warga negara Belanda. Saat akan memasuki pintu pesawat, Munir bertemu Pollycarpus Budihari Priyanto, pilot Garuda yang biasa dipanggil Polly. Status Polly dalam penerbangan ini adalah extra crew, yaitu kru yang terbang sebagai penumpang dan akan bekerja untuk tugas lain. Mereka bertemu di dekat pintu masuk kelas bisnis. Sebagai penumpang kelas ekonomi, Munir sebenarnya akan lebih dekat dengan tempat duduknya bila masuk melalui pintu belakang. Diawali percakapan dengan Polly, Munir berakhir di tempat duduk kelas bisnis, nomor 3K. Kursi 3K adalah tempat duduk Polly, sementara milik Munir adalah 40G. Polly selanjutnya naik ke kokpit di lantai dua untuk bersalaman dan mengobrol dengan awak kokpit yang bertugas. Saat pesawat mundur dan siap tinggal landas, Polly dipersilakan oleh purser Brahmanie untuk duduk di kelas premium karena banyak tempat duduk yang kosong di kelompok termahal itu. Purser adalah pimpinan kabin yang bertanggung jawab atas kenyamanan seluruh penumpang, termasuk kepindahan tempat duduk mereka. Lelaki berseragam pilot kemeja putih dan celana biru dongker itu pun duduk di 11B.
Ada dua cerita tentang kepindahan Munir ke kelas bisnis itu, yaitu menurut kisah brahmanie dan polly. Dalam sidang PN (Pengadilan Negeri) Jakarta Pusat, Brahmanie bersaksi, “Saat sedang di depan toilet bisnis, saya berpapasan dengan Saudara Polly. Lalu, Saudara Polly, sambil memegang boarding pass warna hijau, bertanya dalam bahasa Jawa, ‘Mbak, nomer 40G nang endi? Mbak, aku ijolan karo kancaku,’ (Mbak, nomor 40G di mana? Mbak, saya bertukar tempat dengan teman saya.) tanpa menyebutkan nama temannya. Karena nama temannya tidak disebutkan, saya ingin tahu siapa teman Saudara Polly. Lalu, saya datangi nomor 3K, dan ternyata yang duduk di sana Saudara Munir, yang lalu saya salami. Saudara Polly tidak duduk di 40G, tapi di premium class nomor 11B atas anjuran saya karena banyak tempat duduk yang kosong.” Sementara itu, dalam wawancara di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cipinang, Polly bercerita, “Saya ketemu Munir di pintu pesawat Garuda Indonesia, di bandara Jakarta. Dia tanya di pintu bisnis, ‘Tempat duduk ini di mana?’ Saya bilang, ‘Wah Bapak ini di ekonomi, cuma tempat duduknya yang mana saya tidak hafal.’ Kemudian, itu kan antre, ada banyak penumpang lain mau masuk, saya persilakan duluan. Saya sebagai kru lebih baik ngalah, toh sama-sama naik pesawat, nggak mungkin ditinggal. Setelah itu, karena saya mau masuk ke ruang bisnis, mau melangkah ke dalam pesawat, saya bilang kepada Munir, ‘Saya duduk di bisnis, kalau Bapak mau di sini, ya Bapak tanya dulu sama pimpinan kabin, kalau diizinkan ya silakan, bila tidak ya mohon maaf.’ Bahasa saya seperti itu. Sudah, itu saja.” Sebelum pesawat tinggal landas, di kelas bisnis, Yeti Susmiarti menyajikan welcome drink. Penumpang diminta mengambil gelas berisi sampanye, jus jeruk, atau jus apel. Munir memilih jus jeruk. Selesai minuman pembuka, pramugari senior itu membagikan sauna towel (handuk panas), yang biasa digunakan untuk mengelap tangan, lalu memberikan surat kabar kepada penumpang yang ingin membacanya. Semua layanan itu disajikan Yeti sendiri, dengan bantuan Oedi Irianto, pramugara senior, yang menyiapkan segala keperluannya di pantry. Pukul 22.02 WIB pesawat yang dikendalikan Kapten Pilot Sabur Muhammad Taufik itu tinggal landas. Untuk mengukur waktu tinggal landas dan mendarat secara tepat, industri penerbangan menggunakan istilah block off dan block on. Block off adalah waktu yang menunjukkan saat ganjal roda pesawat di bandara dilepas dan pesawat mulai bergerak untuk terbang. Block on digunakan sebagai penanda waktu kedatangan pesawat di bandara tujuan, yaitu saat ganjal roda pesawat dipasang.
Sekitar 15 menit setelah tinggal landas, pramugari menawarkan beberapa pilihan makanan dalam kemasan yang masih panas di atas nampan. Di kursi 3K, Munir memilih mi goreng. Selesai mi, Yeti kembali memberi tawaran minuman, kali ini lebih banyak pilihan daripada welcome drink. Pilihannya adalah minuman beralkohol (wiski, gin, vodka, red wine, white wine, dan bir), soft drink, jus apel serta jus jeruk Buavita, jus tomat Berry, susu putih Ultra, air mineral Aqua, teh, dan kopi. Munir kembali memilih jus jeruk. Setelah mengarungi langit pulau Jawa, Sumatera, dan laut di sekitarnya selama 1 jam 38 menit, pesawat GA 974 mendarat di Bandara Changi, Singapura pukul 00.40 waktu setempat. Zona waktu Singapura satu jam lebih awal ketimbang WIB. Awak kabin memberi penumpang waktu untuk jalan-jalan atau kegiatan apa saja di Bandara Changi selama 45 menit.
Karena keluar dari pintu bisnis, Munir pun lebih cepat mencapai Coffee Bean dibanding jika keluar dari pintu ekonomi. Usai singgah di kedai itu, dia kembali menuju ke pesawat melaui gerbang D 42. Di perjalanan menuju pintu Garuda, dia disapa oleh seorang laki-laki. “Anda Pak Munir, ya?” “Iya, Pak.” “Saya dr. Tarmizi dari Rumah Sakit Harapan Kita. Pak Munir ngapain ke Belanda?” “Saya mau belajar, mau nge-charge satu tahun.” “Di mana?” “Utrecht.” “Wah, Indonesia kehilangan, dong. Anda kan orang penting?” komentar dr. Tarmizi. “Ya… ini perlu untuk saya, Pak,” timpal Munir sambil tersenyum. “Anda ‘kan pernah nulis tentang Aceh. Bagaimana sih, bisa beres nggak tuh?” tanya dokter lagi, sambil keduanya berjalan. “Ah, itu tergantung niat, Dok.” “Maksudnya?” “Kalau niatnya membereskan, tiga bulan juga beres.” Kemudian, dokter kelahiran Sumatera Barat itu mengeluarkan dompet dan memberi Munir kartu namanya sambil berkata, “Kapan-kapan, bila perlu, silakan menghubungi saya.” Munir menerima kartu nama dr. Tarmizi Hakim, lalu keduanya berpisah. Si dokter masuk ke kelas bisnis, Munir menuju pintu bagian belakang pesawat dan duduk di kursi 40G kelas ekonomi, sebagaimana tercantum di boarding pass-nya. Karena Polly hanya sampai Singapura, Munir pun kembali ke tempat duduk aslinya untuk penerbangan Singapura-Amsterdam. Total waktu transit di Changi (antara block on dan block off) adalah 1 jam 13 menit, jumlah waktu yang digunakan pesawat untuk pengisian bahan bakar, penggantian seluruh awak kokpit dan kabin, serta penambahan penumpang dari Singapura.
Pesawat tinggal landas dari Changi pukul 01.53 waktu setempat. Penerbangan menuju Schipol ini dipimpin oleh Kapten Pantun Matondang, dengan purser Madjib Nasution sebagai penanggung jawab pelayanan penumpang. Sebelum pesawat mengangkasa, pramugari Tia mengecek kesiapan penumpang untuk tinggal landas. Saat melakukan kewajibannya, dia dipanggil oleh Munir yang meminta obat Promag. Pramugari bernama lengkap Tia Dewi Ambara itu meminta Munir menunggu sebentar karena pesawat akan tinggal landas dan seluruh awak kabin harus duduk di tempat masing-masing. Kira-kira 15 menit kemudian, setelah pesawat di ketinggian aman, Tia mulai membagikan selimut dan earphone, dilanjutkan dengan makanan pengantar tidur. Saat Tia sampai di 40G, lelaki berkaus abu-abu dan bercelana jins hitam itu sedang tidur. Tia membangunkannya dan bertanya, “Apa Bapak sudah dapat obat dari teman saya?” “Belum.” “Maaf, kami tidak punya obat.” Tia lalu menawarkan makanan, yang ditolak oleh Munir. Namun, lelaki ini meminta teh hangat. Tia pun menyajikan teh panas yang dituangkan dari teko ke gelas di atas troli. Munir menerima uluran minuman itu, lengkap dengan gula 1 sachet. Ketika Tia melanjutkan melayani penumpang lain, Munir melewatinya di gang menuju toilet. Ini kali pertama Munir pergi ke toilet, sekitar 30 menit setelah tinggal landas.
Tiga jam sudah pesawat besar itu terbang dan sedang berada di langit India saat Munir semakin sering pergi ke toilet. Ketika berjalan di gang kabin yang hanya diterangi oleh lampu baca, dia berpapasan dengan pramugara Bondan Hernawa. Dia mengeluhkan sakit perut dan muntaber kepada Bondan, serta memintanya memanggilkan dr. Tarmizi yang duduk di kelas bisnis. Munir juga memberinya kartu nama dokter itu. Sesuai prosedur untuk situasi semacam ini, Bondan pun melapor kepada purser Madjib Nasution yang berada di Purser Station. “Bang, ini Pak Munir penumpang kita sakit. Buang-buang air, muntah-muntah. Ini ada kawannya, dokter, tapi saya tidak tahu duduk di mana. Tolong carikan tempat duduknya,” ujar Bondan sambil menyerahkan kartu nama dr. Tarmizi. Madjib mencari penumpang atas nama dr. Tarmizi Hakim di Passenger Manifest dan menemukannya di kursi nomor 1J. Belum sempat dia beranjak, Munir sudah berada di depan Purser Station. Sambil memegangi perut, Munir berkata, “Saya sudah buang-buang air, pakai muntah juga. Mungkin maag saya kambuh. Seharusnya tadi tidak minum jeruk waktu dari Jakarta-Singapura.” Munir pun melanjutkan perjalanannya ke toilet. Madjib dan Bondan lalu mendatangi 1J dan mendapati dr. Tarmizi sedang tidur di 1K, kursi sebelah kanannya yang, karena dekat jendela dan dia dapati kosong, lalu dia duduki. “Dokter, dokter…,” Madjib berusaha membangunkan. Keduanya mengulanginya beberapa kali dengan suara lebih keras, tapi tidur dokter bedah itu tetap tak terusik. Madjib kembali berjumpa Munir di gang dan memintanya membangunkan dr. Tarmizi sendiri, sementara Bondan pergi ke pantry untuk melaksanakan tugas terjadwalnya. Akhirnya, dr. Tarmizi bangun. Munir menjelaskan kondisi tubuhnya yang saat itu tampak sangat lemah dengan berkata, “Saya sudah muntah dan buang air besar enam kali sejak terbang dari Singapura.” Dr. Tarmizi mengusulkan kepada Madjib supaya Munir pindah tempat duduk ke nomor 4 karena tempat itu kosong dan dekat dengannya. Munir pun duduk di kursi 4D. Dr. Tarmizi mengambil posisi di samping kirinya. “Pak Munir makan apa saja dua hari terakhir ini?” tanya dokter spesialis bedah toraks kardiovaskular itu. Munir hanya diam, mungkin akibat nyeri perutnya. Pertanyaan itu disambut oleh Madjib, “Pak Munir tadi sempat minum air jeruk, padahal Pak Munir tidak kuat minum jeruk karena punya maag.” Munir tetap diam, tidak berkomentar. “Kalau maag tidak begini,” kata si dokter, yang lalu bertanya kepada Munir, “Anda makan apa?” “Biasa saja.” “Kemarin?” “Biasa saja.” “Kemarinnya lagi?” “Biasa saja.” Dokter itu melakukan pemeriksaan secara umum dengan membuka baju pasiennya. Dia lalu mendapati nadi di pergelangan tangan Munir lemah. Dokter berpendapat Munir menunjukkan gejala kekurangan cairan akibat muntaber.
Munir kembali lagi ke toilet, diikuti dokter, pramugara, dan pramugari. Setelah muntah dan buang air, dia pulang ke kursi 4D, sambil terus batuk-batuk berat. Dr. Tarmizi meminta seorang pramugari mengambilkan Doctor’s Emergency Kit yang dimiliki setiap pesawat terbang. Kotak itu dalam keadaan tersegel. Setelah melihat isinya, dia berpendapat obat yang tersedia sangat minim, terutama untuk kebutuhan Munir. Dr. Tarmizi memerlukan infus, tapi tidak ada. Tidak ada obat khusus untuk sakit perut mulas, juga obat muntaber biasa. Si dokter pun mengambil obat dari tasnya sendiri. Dia memberi Munir obat diare New Diatabs serta obat mual dan perih kembung Zantacts dan Promag. Dua tablet untuk yang pertama dan masing-masing satu tablet untuk dua terakhir. Dr. Tarmizi lalu meminta seorang pramugari membuatkan teh manis dengan sedikit tambahan garam di dalamnya. Namun, lima menit setelah meminum teh hangat itu, Munir kembali ke toilet. Munir rampung setelah lima menit dan membuka pintu. Dr. Tarmizi lalu membimbing Munir berjalan menyusuri gang sambil berkomentar kepada purser Madjib, “Mengapa infus saja tidak ada padahal perjalanan sejauh ini?” Di kotak obat pesawat terdapat cairan Primperam, obat antimual dan muntah, yang kemudian disuntikkan dr. Tarmizi ke tubuh Munir sejumlah 5 ml (dosis 1 ampul). Injeksi di bahu kiri ini cukup berpengaruh karena Munir kemudian tidur. Penderitaannya reda selama 2-3 jam.
Munir bangun dan kembali masuk ke toilet. Dia cukup lama berada di dalamnya, kira-kira 10 menit, dan pintunya pun tidak tertutup dengan sempurna. Madjib memberanikan diri melongok lewat celah yang ada dan mengetuk pintu, tapi tidak ada respons dari orang yang sedang menderita di dalam sana. Madjib membuka pintu lebih lebar dan melihat laki-laki 38 tahun itu sedang bersandar lemas di dinding toilet. Purser Madjib langsung memanggil dokter yang selama setengah jam terakhir paling tahu kondisi penumpangnya itu. Dr. Tarmizi mengajak Madjib dan pramugara Asep Rohman mengangkat Munir kembali ke kursi 4D. Setelah didudukkan di kursi, Munir menjalani pemeriksaan oleh dr. Tarmizi, dalam gelapnya kabin pesawat yang hanya diterangi lampu baca. Kegelapan ini keadaan yang tak bisa mereka atasi sebab demikianlah aturan penerbangan. Pertama pergelangan tangan, lalu perut. Saat perutnya diketuk oleh si dokter, Munir mengeluh, “Aduh, sakit,” sambil memegang perut bagian atas. Madjib menyarankannya untuk ber-Istighfar, disambut Munir dengan menyebut, “Astaghfirullah Haladzim, La Illaha Illa Llah,” sambil tetap memegangi perut. Pramugari Titik Murwati yang berada di dekat situ berinisiatif memberi balsem gosok, tindakan yang dia harap bisa membantu meredakan derita penumpangnya. Atas persetujuan dr. Tarmizi, Titik menggosok perut Munir dengan balsem yang bisa memberikan rasa hangat. Munir berkata dia ingin istirahat karena capek. Dr. Tarmizi membuka kotak obat lagi dan mengambil obat suntik Diazepam. Kali ini, dokter menyuntikkan 5 mg di bahu kanan, juga dengan bantuan purser Madjib. Jarak antara kedua suntikan sekitar 4-5 jam. Sesudah suntikan obat penenang itu, Munir masih merasakan mulas di perut. Lima belas menit berlalu dan Munir ke toilet lagi, ditemani dokter, purser, serta pramugari. Di dalamnya, Munir muntah, diikuti buang air. Kembali ke tempat duduk, Munir berkata dirinya ingin tidur telentang. Purser dan seorang anak buahnya membentangkan sebuah selimut sebagai alas di lantai depan kursi 4D-E dan sebuah bantal di atasnya. Dia pun berbaring di sana, dengan dua selimut lagi diletakkan di atas tubuhnya agar hangat. Dr. Tarmizi berkata kepada awak kabin itu supaya Munir dijaga, dan bahwa dirinya ingin istirahat karena besok kerja (dia akan melakukan operasi jantung di rumah sakit di Swole), sambil minta dibangunkan bila terjadi apa-apa dengan Munir. Juga, dia berpesan agar mereka memastikan dokter dari Amsterdam yang besok masuk ke pesawat membawa infus. Setelahnya, si dokter kembali ke kursi di 1K dan tidur. Munir kembali bisa tidur, tapi sering berubah posisi, dan posisi itu selalu miring, tidak pernah telentang atau tengkurap. Madjib terus setia menjaga Munir sampai sekitar 3 jam sebelum pesawat mendarat di Bandara Schipol, saat awak kabin menyiapkan makan pagi penumpang.Madjib berjalan ke tempat duduk dr. Tarmizi dan bertanya apakah perlu dirinya membangunkan Munir untuk sarapan, yang dijawab dengan anjuran untuk membiarkan Munir tetap istirahat. Madjib pun melakukan tugas rutinnya mengawasi lingkungan pesawat.
Sekitar dua jam sebelum pesawat mendarat, jam 05.10 GMT atau 12.10 WIB, ketika sarapan masih berlangsung dan lampu kabin masih menyala, Madjib kembali melangkahkan kaki mengunjungi “tempat tidur” Munir. Di depan kursi 4D-E, dia melihat tubuh Munir dalam posisi miring menghadap kursi, mulutnya mengeluarkan air liur tidak berbusa, dan telapak tangannya membiru. Dia memegang tangan Munir dan mendapati rasa dingin. Madjib yang kaget bergegas menuju kursi sang dokter. Dokter memegang pergelangan tangan Munir sambil dengan tangan satunya menepuk-nepuk punggung. Dia berulang-ulang berujar, “Pak Munir… Pak Munir….“ Akhirnya, memandang purser Madjib, dr. Tarmizi berkata pelan, “Purser, Pak Munir meninggal… Kok secepat ini, ya…. Kalau cuma muntaber, manusia bisa tahan tiga hari.” Purser Madjib meminta Bondan dan Asep membantunya mengangkat tubuh kaku Munir ke tempat yang lebih baik: lantai depan kursi 4J-K. Munir berbaring di atas dua lembar selimut, kedua matanya dipejamkan oleh Bondan, tubuhnya ditutupi selimut.
Bondan dan Asep membaca surat Yassin di depan jenazah Munir Said Thalib, empat puluh ribu kaki di atas tanah Rumania.
Pada tanggal 12 November 2004 dikeluarkan kabar bahwa polisi Belanda (Institut Forensik Belanda) menemukan jejak-jejak senyawa arsenikum setelah otopsi. Hal ini juga dikonfirmasi oleh polisi Indonesia. Belum diketahui siapa yang telah meracuni Munir, meskipun ada yang menduga bahwa oknum-oknum tertentu memang ingin menyingkirkannya.
Pada 20 Desember 2005 Pollycarpus Budihari Priyanto dijatuhi vonis 14 tahun hukuman penjara atas pembunuhan terhadap Munir. Hakim menyatakan bahwa Pollycarpus, seorang pilot Garuda yang sedang cuti, menaruh arsenik di makanan Munir, karena dia ingin mendiamkan pengkritik pemerintah tersebut. Hakim Cicut Sutiarso menyatakan bahwa sebelum pembunuhan Pollycarpus menerima beberapa panggilan telepon dari sebuah telepon yang terdaftar oleh agen intelijen senior, tetapi tidak menjelaskan lebih lanjut. Selain itu Presiden Susilo juga membentuk tim investigasi independen, namun hasil penyelidikan tim tersebut tidak pernah diterbitkan ke publik.
Pada 19 Juni 2008, Mayjen (purn) Muchdi Pr, yang kebetulan juga orang dekat Prabowo Subianto dan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, ditangkap dengan dugaan kuat bahwa dia adalah otak pembunuhan Munir[1]. Beragam bukti kuat dan kesaksian mengarah padanya[2].Namun demikian, pada 31 Desember 2008, Muchdi divonis bebas. Vonis ini sangat kontroversial dan kasus ini tengah ditinjau ulang, serta 3 hakim yang memvonisnya bebas kini tengah diperiksa[3].

Film dokumenter

Untuk memperingati satu tahun kepergian Munir, diluncurkan film dokumenter karya Ratrikala Bhre Aditya dengan judul Bunga Dibakar di Goethe-Institut, Jakarta Pusat, 8 September 2005. Film ini menceritakan perjalanan hidup Munir sebagai seorang suami, ayah, dan teman. Munir digambarkan sosok yang suka bercanda dan sangat mencintai istri dan kedua anaknya. Masa kecil Munir yang suka berkelahi layaknya anak-anak lain dan tidak pernah menjadi juara kelas juga ditampilkan. Munir dibunuh di era demokrasi dan keterbukaan serta harapan akan hadirnya sebuah Indonesia yang dia cita-citakan mulai berkembang. Semangat inilah yang ingin diungkapkan lewat film ini.
Sebuah film dokumenter lain juga telah dibuat, berjudul Garuda's Deadly Upgrade hasil kerja sama antara Dateline (SBS TV Australia) dan Off Stream Productions.
Pada peringatan tahun kedua, 7 September 2006, di Tugu Proklamasi diluncurkan film dokumenter berjudul "His Strory". Film ini bercerita tentang proses persidangan Pollycarpus dan fakta-fakta yang terungkap di pengadilan.

Peringatan

Sejak 2005, tanggal kematian Munir 7 September, oleh para aktivis HAM dicanangkan sebagai Hari Pembela HAM Indonesia.


sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Munir_Said_Thalib

Senin, 17 Februari 2014

PUISI

   Kasih Sayang Mu



Ibu . . . .

Kau melahirkan ku

Kau merawatku

Hingga aku sebesar ini

Kau berikan aku kasihsayang

Sebuah kebahagiaan

Kadang kau menyanyikan sebuah syair untukku

Tiap pagi kau bangunkan ku

dari tidurku

Menyiapkan sarapan untuk buah hatimu

Membuatku tumbuh seperti yang kau mau

Kadang aku membantah perintahmu

melawanmu . . .

Kadang pula sengaja tidak mendengarkan sautanmu

yang merdu itu

Ibu . . .

Maafkan aku yang selalu melawanmu

Maafkan aku yang terkadang tidak mendengar nasihatmu

Maafkan aku yang mungkin tidak seperti apa yang kau mau

Maafkan aku atas segala sakit hatimu karena aku

Aku sayang dirimu ibu

Teman kecil

Postingan saya yang pertama ini,mau ngasih tau sahabat-sahabat kecil saya :


 1.Resta Ristiari
Resta ini sahabat saya dari kecil.Sekarang pun kalau ketemu masih suka tegur sapa.dia ini orangnya sedikit egois tapi tetep baik ko:) 
2. M.Nurofiq 
Ini nih pas fotonya masih unyu-unyu wkwk:v.Dia ini temen saya dari kecil.Pas masih kecil sih dia bangornya ga ketulungan tapi setelah bertambahnya umur dia malah jadi alim,sopan,pendiem,jadi tambah baiiiiik jugaaa. 
3.Dhila Rizki 
Ini dia orang yg dari dulu ga pernah bisa diem ampe sekarangpun ga bisa diem-_-.Tapi Dhila ini baik ko:)

4.  Intan Sabilla Putri


Ini dia sahabat kecil,yang selalu saya kangenin.Rasanya ingin bersenda gurau bersama kembali bertukar cerita atau apapun lah untuk menghilangkan rasa rindu ini /lebay/.Tapi semuanya tidak akan pernah terjadi,dia sudah meninggalkan aku lebih dulu meninggalkan orang-orang yg dia cintai untuk selamanya.Ya saat ini hanyalah doa untukmu yg selalu panjatkan agar kau tenang di alam sana. 



Selesai~